Langsung ke konten utama

Postingan

Belajar Menjadi Manusia

Abdurrahman Jami bersyair ... "pabila langkah-langkahmu menjauhkanmu dari jalan cinta, tinggalkan. Belajarlah cinta.
Apa pun yang kita pelajari, siang dan malam membolak-balikkan halaman buku, siang dan malam mendengarkan khutbah agama, namun jika itu tak bisa mengantarkan kita kepada kasih sayang sesama makhluk, tak membuat hati bergetar melihat kesedihan makhluk lain, maka tinggalkanlah --pelajarilah cinta, demikian pesan sang Mawlana Abdurrahman Jami.
Sa'di sang penyair dari Persia juga mengatakan ; Anak adam satu badan satu jiwa, tercipta dari asal yang sama. Bila satu anggota terluka maka semuanya merasa. Siapa yang tak sedih dengan derita saudara, tak layak menyandang gelar manusia.
Sudah berapa banyak sekat-sekat pembatas yang kita bangun, dari mulai sekat kelompok, status sosial, mazhab, bahkan agama --sampai kita melupakan "kemanusiaan", bukankah semua kita manusia?.
 Semoga semua makhluk berbahagia, dan kita pun terus belajar menjadi manusia yang sebenarnya.

Postingan terbaru

Wahai Anakku, Tebarlah Kasih Sayang

Suatu sore di tepi hutan kota, Rahman tepatnya Abdurrahman seorang siswa kelas VII (7) SMP sedang duduk dan mengamati kakeknya yang sedang menganyam daun rumbia, di sela - sela itu kakeknya memberi wejangan (petuah) dan pelajaran untuk hidupnya, sambil tangannya terus sibuk menganyam, sang kakek berkata ;
"Anakku, kehadiran kita ke dunia ini adalah untuk mengamalkan sifat-sifat Tuhan, jadilah dirimu pengasih dan penyayang, jangan membeda-bedakan manusia, semua kita dari Adam --belajarlah dari pohon yang senantiasa memberikan buahnya kepada siapapun, tak peduli siapa yang diberi, karena tugas kita adalah memberi --mencurahkan kasih sayang kepada seluruh makhluk Tuhan."
"Anakku, jadilah dirimu seperti garam dalam air, walau tak nampak namun terasa --demikianlah dalam hidup, lakukan dan berikan yang terbaik kepada manusia, begitulah perintah Tuhan".
Sang kakek melanjutkan ; "Anakku, lewati dan telusurilah jalan kecil ini buka mata dan telingamu, lihatlah ke bawah nan…

Hati- Hati Sebelum Menghukumi

Aku tidak tau tentang keadaan orang lain, karena yang aku lihat hanya tubuhnya sedangkan keadaan dirinya yang sebenarnya berada dalam batinnya.
Di kedinginan malam yang merasuk ke sum-sum tulang, aku melihat seorang teman yang hanya mengenakan kaos kecil, mungkin keadaan dia tidak dingin, namun hangat karena sesuatu yang menghangatkan jiwanya, apa itu --hanya dia yang tau.
Terkadang aku terlalu ceroboh menghukumi keadaan seorang hanya dari penglihatan mata kepalaku, kini aku menyadari bahwa yang aku lihat hanya sebatas tubuhnya, bukan batinnya, sedangkan segala sesuatu akarnya ada di sana, di dalam batinnya.
Dari pengalaman ini aku baru memahami dan menyadari apa arti dari kalimat Immanuel Kant ketika mengatakan "seseorang yang terlihat miskin, belum tentu dia menderita. Salah besar ketika kita merasa kasihan kepada seseorang yang tidak butuh dikasihani, bisa jadi rasa kasihan kita itu menjadi hinaan bagi orang tersebut".

Tasawuf Anti Sosial?

Suatu ketika dalam sebuah diskusi kecil tentang mempelajari dan memahami diri, seorang teman berkata kepada saya bahwa "pemikiran saya itu sangat individual, tidak banyak bicara sosial, sedangkan kehidupan kita tak bisa lepas dari hubungan sosial."
Kronologisnya waktu itu saya membahas tentang benahi hati, perbaiki diri, dan jangan sibuk dengan orang lain, ada kemungkinan bahwa dia menangkap maksud saya sebagai "tidak mementingkan sosial" mungkin.
Setelah mendengar pernyataan dia, dengan sedikit tertawa saya menjelaskan bahwa "kehidupan sosial itu dibangun dari individu-individu, tidak mungkin ada masyarakat tanpa adanya individu- individu, artinya jika ingin memperbaiki masyarakat maka tentu harus dimulai dari memperbaiki individu -individu terlebih dahulu. Dalam Alquran juga dijelaskan demikian jagalah dirimu dan ahli keluargamu dari api neraka, dari sini kita dapat menangkap aturan main tentang bagaimana suatu perbaikan itu dimulai, dari diri sendiri baru kep…

Siapa Lagi Korban Kita Hari Ini?

Kehidupan sosial berarti berhubungan dengan orang lain, bisa jadi orang itu teman, orang tua, guru, tetangga, dan lain sebagainya. Setiap hari kita tentu berhubungan dengan mereka, baik sejenak, satu jam, atau setiap saat. Sejauh hubungan dengan orang lain --pernahkah kita bertanya "apakah mereka pernah menjadi korban saya? apakah hari ini ada diantara mereka yang menjadi korban saya?". 
Seseorang yang hati/jiwa nya masih bertahtakan kebencian, kemarahan, kedengkian, dendam, dan tidak terima kenyataan merupakan modal awal pencarian korban di kehidupan sosialnya.
Jika batin yang dipenuhi kebencian telah melahirkan kemarahan, iri telah melahirkan kedengkian, tidak terima telah melahirkan kejahatan tentunya akan timbul banyak korban dalam kehidupan sosialnya.
Mari merenungi kehidupan kita masing-masing, sudah berapa banyak orang yang menjadi korban cacian, hinaan, bahkan makian yang lahir dari kebencian kita?, sudah berapa banyak manusia yang menjadi korban gosip, bahkan fitnah ya…

Tindakan Lebih Berarti Daripada Sekedar Bicara

Suatu ketika di sebuah warung kopi tak jauh dari kos-kosan, aku sedang duduk sambil memesan kopi yang sedikit pahit. Ku lihat di sekeliling nampak begitu sepi. 
Beberapa saat kemudian datang seorang tua yang duduk tepat di belakang ku. Aku tidak terlalu memperhatikannya, namun aku sekilas melirik ke belakang untuk mengambil selembar koran. Setelah beberapa saat, dari kedai di samping warung terdengar sebuah ceramah dari seorang ustadz, mungkin pemilik kedai sengaja menaikkan volumenya agar bisa terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.
Mungkin berselang dua puluh menit setelah ceramah itu diputar terdengar lirih orang tua di belakangku berkata "Tak usah kau khutbahkan agamamu, aku tak perlu dengan apa yang kau katakan. Aku hanya melihat bagaimana perilakumu kepada keluargamu, teranggamu, mereka yang meminta-minta, dan bagaimana perilakumu kepada manusia asing dalam hidupmu, juga perilakumu kepada hewan, tumbuhan dan alam."
Setelah kalimat itu dituturkan beliau pun bangkit dari …

Dan Aku pun Menderita

Pasal 1
Jangan biarkan hal-hal negatif merasuk ke dalam pikiran kita.
Manusia sebagai makhluk yang selalu ingin tau meniscayakan rasa penasaran, apalagi jika hal tersebut berkaitan dengan aib, kejelekan, gosip  orang lain, wah --bukan main rasa ingin tau (kepo) terhadap hal tersebut. Akan tetapi kita seharusnya harus menyadari bahwa ketika hal- hal negatif masuk ke dalam pikiran kita maka yang terjadi adalah penderitaan bagi kita sendiri. Ibarat sebuah kamar yang indah namun setiap hari diisi dengan berbagai sampah dari luar, apa jadinya kamar tersebut? saya yakin pembaca sudah mengetahuinya. 
Selanjutnya, kita perlu menyadari bahwa setiap hal negatif yang kita masukkan ke pikiran kita itu tidak bermanfaat sama sekali, pertanyaan mendasar kita adalah "apa untungnya kita mengetahui aib atau cela seseorang?", "apa manfaatnya kita penasaran terhadap hubungan asmara atau rumah tangga orang lain?", itu semua hanya akan membuat benih-benih kebencian dalam batin kita semakin…